Permintaan Maaf dan Penurunan Artikel Iwan Fals

Dear Pembaca Mojok yang baik hati.

Polemik soal artikel tentang Iwan Fals berjudul “Di Hadapan Jokowi, Masihkah Iwan Fals Tetap Fals?” yang ditulis oleh Thowaf Zuharon dan kami naikkan di Mojok per 8 Januari 2017 rupanya mengundang perdebatan besar. Banyak pembaca yang keberatan dan tidak terima atas artikel yang isinya dinilai terlalu frontal menyerang pribadi Iwan Fals.

Sebagai pihak yang merasa bertanggung jawab atas tayangnya artikel tersebut, Kami, redaksi Mojok, memutuskan untuk menurunkan artikel tersebut. Adapun alasan redaksi adalah sebagai berikut. Continue reading Permintaan Maaf dan Penurunan Artikel Iwan Fals

Rubrik Baru Mojok

Pembaca Mojok yang baik… Kehadiran Prima Sulistya atau biasa dipanggil ‘Encik Prim’, tentu memberi kesegaran baru di kru Mojok. Berbagai gagasan kreatif menderas. Dalam waktu dekat, kami akan membuka sebuah rubrik konsultasi yang tak akan Anda temukan di media lain.

Rubrik tersebut seputar curhat asmara yang akan direspons bergantian oleh Agus Mulyadi dan Encik Prim. Jadi jika Anda punya persoalan asmara berikut tetek-bengeknya, maka Anda bisa mengirim email ke Mojok, lalu mereka berdua akan menjawab, memberi solusi, dan kalau perlu menjerumuskan Anda. Continue reading Rubrik Baru Mojok

Suksesor Edo

Saya harus agak berhati-hati memilih suksesor Eddward Edo. Ada banyak faktor yang harus saya pertimbangkan. Pertama, saya percaya bahwa setiap redaktur Mojok pasti akan memperkuat citarasa media ini. Bana dan Edo sangat memperkuat citarasa Mojok. Demikian juga dengan Agus Mulyadi. Kedua, ada beban brand yang harus disangga oleh redaktur terpilih. Terkadang hal seperti ini tidak mudah bagi beberapa orang. Sebab bisa menghantam rasa percaya diri mereka. Membenamkannya. Dan itu tidak baik bagi perkembangan mental orang-orang tertentu.

Ketiga, saya harus mempertimbangkan kekurangan Mojok. Media ini masih banyak kekurangannya. Sama seperti saya. Kadang kekurangan itu bahkan cenderung memalukan. Saya tahu tidak mungkin menutup semua kekurangan itu, tapi harus berusaha menambalnya. Sehingga redaktur terpilih harus saya lihat dalam konteks ini.

Continue reading Suksesor Edo

Sang Penggedor

Dengan mata berkaca-kaca, Pimred Mojok malam ini pamitan kepada saya kalau dia akan meninggalkan Yogya untuk bergabung dengan sebuah media besar: Kumparan. Itu alasan ketiga. Alasan pertamanya, ibunya yang tinggal di Jakarta, meminta anak kesayangannya ini untuk menemani. Alasan keduanya, tahun depan dia berencana menikah dengan seorang pramugari.

Tentu saja saya melepas Sang Penggedor, begitu julukan saya untuknya, dengan hati gembira. Semua teman saya yang di KBEA tentu tahu bahwa KBEA adalah ikatan perkawanan. Bukan perusahaan. Jadi kalau ada salah satu anggota kami pergi, kami justru melepas dengan senang hati. Itu menambah jumlah keluarga kami yang berkarier di media-media besar Jakarta: Fikrie (Beritagar), Bana dan Nuran (Tirto), dan Eddward Edo (Kumparan). Continue reading Sang Penggedor

Dari Jaya Baya Ke Mojok

Salah satu media yang mewarnai hidup saya adalah majalah berbahasa Jawa: Jaya Baya. Saya bahkan menulis di media tersebut sejak masih duduk di bangku SMP.

Jaya Baya begitu dicintai pembacanya. Saya bahkan sangat suka membaca rubrik ‘Layang Saka Warga’, semacam surat pembaca. Tapi hampir semua isi tulisan itu, baik koreksi, kritik, permintaan dll, disampaikan dengan semangat cinta yang bergelora dari para pembaca kepada Jaya Baya. Komunitas pembaca Jaya Baya pun bertumbuhan, utamanya di kota-kota Jawa Timur dan Jawa Tengah. Continue reading Dari Jaya Baya Ke Mojok